Teknik Desensitisasi Sebagai Pendekatan Tingkah Laku Anak Pada Perawatan Gigi

Teknik Desensitisasi Sebagai Pendekatan Tingkah Laku Anak Pada Perawatan Gigi

Dewi Purnamasari Tampubolon

090600133

Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Sumatera Utara

Pendahuluan

Kekhawatiran atau ketakutan yang didapat pada orang dewasa pertama-tama dibentuk pada masa kanak-kanak. Rasa takut merupakan salah satu emosi primer dari bayi yang baru lahir, berupa reaksi yang mengejutkan dan merupakan salah satu dari pokok yang terus mendorong dalam membentuk tingkah laku anak.

Akan tetapi si anak tidak menyadari bentuk perangsang yang menimbulkan rasa takut. Jika anak bertambah besar dan kekuatan jiwa yang bertambah, maka ia akan sadar akan perangsang-perangsang yang menimbulkan rasa takut dan dapat mengenalnya satu demi satu. Seorang anak berusaha menyesuaikan diri terhadap pengalaman yang berbeda-beda dan mencoba menghindarkan diri jika ia tidak mengupas masalahnya secara lain. Jika anak merasa tak sanggup untuk mengatasi keadaan dan melarikan diri dari masalah tersebut, maka rasa takut menjadi sensitif. Anak memperoleh rasa takut yang baru sedangkan yang lama belum terpecahkan.1

Anggapan bahwa kecemasan pasien terhadap perawatan gigi pasien akan berkurang setelah kontak berulang merupakan hal yang umum : bila seorang  pasien yang cemas tidak menemukan adanya hal yang membuat stres pada beberapa kunjungan, kecemasan yang dialaminya dengan sendirinya akan berkurang. Meskipun demikin, hal ini agak bersifat kebetulan, dan tidak dapat diaplikasikan pada pasien yang begitu takut sehingga menolak memasuki ruangan praktik dokter gigi.2

Pengertian Desensitisasi

Desentisasi yaitu suatu cara untuk mengurangi rasa takut atau cemas seorang anak dengan jalan memberikan rangsangan yang membuatnya takut atau cemas sedikit demi sedikit rangsangan tersebut diberikan terus, sampai anak tidak takut atau cemas lagi.1

Prosedur treatment ini dilandasi oleh prinsip belajar counterconditioning, yaitu respon yang tidak diinginkan digantikan dengan tingkah laku yang diinginkan sebagai hasil latihan yang berulang-ulang. Teknis desentisisasi ini sangat efektif untuk menghilangkan rasa takut atau fobia.

Prinsip macam terapi ini adalah memasukan suatu respon yang bertentangan dengan kecemasan yaitu relaksasi. Pertama-tama subyek dilatih untuk relaksasi dalam, salah satu caranya misalnya secara progresif merelaksasi berbagai otot, mulai dari otot kaki, pergelangan kaki, kemudian keseluruhan tubuh, leher dan wajah.

Pada tahap selanjutnya ahli terapi membentuk hirarki situasi yang menimbulkan kecemasan pada subyek dari situasi yang menghasilkan kecemasan paling kecil sampai situasi yang paling menakutkan. Setelah itu subyek diminta relaks sambil mengalami atau membayangkan tiap situasi dalam hirarki yang dimulai dari situasi yang paling kecil menimbulkan kecemasan.3

Desentisisasi  adalah salah satu tehnik yang paling luas di gunakan dalam terapi tingkah laku. Desentisisasi sistematik di gunakan untuk menghapus tingkah laku yng di perkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak di hapuskan itu. Dengan pengkondisian klasik, respon- respon yang tidak di kehendaki dapat di hilangkan secara bertahap.4

Desensitisasi yang dilakukan diklinik pada anak yang takut atau cemas, caranya dengan memperkenalkan anak pada hal-hal yang menimbulkan rasa takut/cemas misalnya :

  • Ruang tunggu
  • Dokter gigi dan perawat
  • Kursi
  • Pengeboran

Yang perlu diperhatikan, anak harus rileks, untuk itu kemungkinan diperlukan beberapa kali kunjungan atau mengulangi rangsangan beberapa kali sampai anak tidak takut.1

Sejarah Desensitisasi

Desensitisasi diperkenalkan pertama sekali tahun 1969 oleh Gale dan Ayers, 1,2 sedangkan Machen dan Jhonson tahun 1975 memperkenalkan Preventive Desensization yang banyak digunakan pada kunjungan pertama anak kedokter gigi misalnya untuk tindakan profilaksis, perawatan dengan pemberian fluor atau menyikat gigi.1

Wolp dan Lazarus memperkenalkan teknik dari desensitisasi yang terdiri dari 3 tahap, yaitu :

  1. Melatih pasien untuk rileks.
  2. Menyusun secara berurutan rangsangan yang menyebabkan pasien merasa takut atau cemas yaitu hal yang paling menakutkan sampai hal yang tidak menakutkan.
  3. Mulailah memberikan rangsangan secara berurutan pada pasien yang rileks tersebut. Dimulai dengan rangsangan yang menyebabkan rasa takut yang paling ringan dan berlanjut ke rangsangan yang berikutnya. Rangsangan ini ditingkatkan manurut urutan yang telah disusun.1

Rasa Takut Pada Anak

Sering kita mendengar seorang ibu yang sedang memarahi anaknya dengan ucapan, “Kalau kamu masih nakal terus, ibu bawa kamu ke dokter biar disuntik!” atau “Jangan bandel ya, kalau tidak ibu bawa kamu ke dokter gigi biar di bor giginya!”

Rasa takut merupakan suatu mekanisme perlindungan diri dan bukan merupakan gejala abnormal, karena secara naluriah seorang anak merasa takut terhadap sesuatu yang asing baginya. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pengertian juga kepercayaan yang kurang terhadap dirinya sendiri serta anak sering memutarbalikkan dan membesar-besarkan kenyataan, sehingga ia melihat bentuk-bentuk bahaya yang sebenarnya tidak ada.

Rasa takut anak terhadap kunjungan ke dokter gigi terbagi dalam 2 kategori, yakni :

1. Rasa takut yang obyektif.Seorang anak yang mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan pada saat kunjungan pertamanya ke dokter gigi akan merasa takut pada kunjungan yang kedua kalinya dan juga dia akan merasa takut terhadap orang yang berpakaian putih-putih yang biasanya dikenakan oleh petugas kesehatan.

2. Rasa takut subyektif. Seorang anak mempunyai perasaan dan sikap terhadap sesuatu yang menimbulkan rasa takut, hal ini biasanya didapatkan dari pengalaman orang lain yang dekat dengan dirinya terutama ibunya dan rasa takut ini biasanya lebih sulit dihilangkan karena anak tidak merasakannya sendiri.

Ada berbagai macam tingkah laku anak terhadap perawatan giginya. Mungkin akan terjadi satu atau lebih reaksi yang mengakibatkan masalah menjadi kompleks, reaksi tersebut bisa berupa sikap rendah diri, malu, cemas, takut, bahkan sikap melawan. Tindakan orangtua yang tepat dan terarah terhadap anaknya akan sangat membantu berhasilnya suatu perawatan gigi.

Beberapa orangtua tidak menyadari bahwa mereka secara tidak langsung mempunyai peranan dalam mewujudkan tingkah laku anak, sehingga anaknya menjadi takut, gelisah, atau segan pergi ke dokter gigi, yaitu :

1. Orangtua yang sangat memanjakan anak, semua keinginan anak dikabulkan, akibatnya anak akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Bila tuntutan anak tidak dipenuhi, anak menunjukkan sikap yang tidak senang atau marah.

2. Orangtua yang terlalu dominan terhadap anak. Akibatnya anak biasanya akan menunjukkan sikap pemalu, penakut, mudah cemas.

3. Kekhawatiran orangtua dalam menghadapi pengobatan gigi, mempengaruhi sikap anak dalam menjalani perawatan giginya. Pada umumnya kaum ibulah yang mempunyai peranan cukup besar, ibu yang khawatir mempunyai pengaruh negatif terhadap sang anak.

4. Secara umum orangtua yang berasal dari tingkat sosial menengah ke atas cenderung lebih siap dan bekerja sama dalam menghadapi masalah–masalah perawatan gigi, karena menganggap perawatan gigi adalah suatu hal yang lumrah.

Di bawah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua ketika berencana membawa anaknya ke dokter gigi, yakni :

1. Jangan membawa anak ke dokter gigi ketika mendekati waktu tidurnya, karena ia akan mengantuk, lekas marah, dan sukar diatur.

2. Jangan membawa anak ke dokter gigi ketika anak baru menghadapi pengalaman emosional yang cukup serius, seperti kelahiran adiknya atau kematian seseorang yang dekat dengannya, karena pada saat ini anak sukar untuk diajak kooperatif.

3. Informasikan nama panggilan anak kepada dokter gigi yang merawat, sehingga anak akan merasa lebih akrab dengan sapaan nama panggilan.

4. Hindarkan kata-kata yang membuat anak menjadi takut, misalnya ketika gigi si anak harus di-rontgen, maka kita katakan rontgen itu sebagai kamera gigi.

Selain faktor orangtua, faktor pergaulan anak dapat mempengaruhi tingkah laku anak di klinik gigi, yaitu bila teman-temannya menceritakan hal-hal yang menakutkan, sehingga menimbulkan rasa takut pada si anak. Oleh karena itu, sangat diperlukan upaya orangtua untuk meyakinkan anak bahwa semua itu tidak beralasan, dan bawalah anak kita sedini mungkin ke dokter gigi, sehingga ia merasa biasa dan akrab dengan suasana di tempat praktek dokter gigi.5

Cara Kerja Desensitisasi

Seorang pasien dibawa kedokter gigi pada usia 5 atau 6 tahun, tetapi ia mencoba melarikan diri. Pada usia 8  tahun, ia menolak perawatan gigi apa pun. Pada usia 18 tahun 1 giginya ditambal, dan menolak untuk datang kembali.kemudian, setelah mengalami sakit gigi selama 3 minggu. Akhirnya ia kedokter gigi yang kemudian merawatnya dibawah anastesi umum. Beberapa giginya dicabut, serta dilakukan beberapa restorasi. Lebih dari 12 tahun kemudian, ia kambali menderita sakit gigi beberapa kali, tetapi tidak mau kedokter gigi. Selama desensitisasi sistemik, pasien harus menjalani 9 kali terapi, masing-masing kunjungan menghabiskan waktu lebih kurang 1 jam. Pada kunjungan pertama, dilakukan pemeriksaan riwayat pasien dan terapi relaksasi. Dalam kunjungan kedua pasien diberikan latihan relaksasi lanjutan dan diminta untuk menuliskan penyebab hal-hal rasa takut terhadap resterasi gigi secara berurutan. Rasa takut tersebut diurutkan seperti terlihat pada tabel 4.2. Situasi pemicu kecemasan terkecil adalah memikirkan kunjungan ke dokter gigi, sedangkan yang terburuk adalah mendapatkan 2 suntikan, masing-nasing pada tiap sisi. Urutan lain dibuat untuk tindakan pencabutan gigi. Dalam kunjungan ketiga terapi relaksasi telah selesai diberikan.

Keenam kunjungan berikutnya dimaksudkan untuk mengkombinasikan relaksasi dengan urutan yang telah dibuat. Pada desensitisasi sistematik, hal ini dilakukan dengan meminta pasien tetap tenang. Kemudian pasien diminta membayangkan situasi yang dianggap menakutkan, dimulai dari yang paling sedikit menimbulkan rasa takut. Bila ia meresa cemas,operator mengistruksikan pasien untuk berhenti memikirkan situasi tersebut dan berkonsentrasi kembali pada relaksasi. Dengan mengkombinasikan relaksasi dan imajinasi pasien, situasi tersebut mulai dirasakan tidak memicu kecemasan. Jka pasien sudah dapat membayangkan situasi yang paling sedikit menimbulkan rasa takut tanpa menjadi cemas, ia dapat beralih kesituasi berikutnya dari urutan tersebut. Ini diulang sampai pasien dapat membayangkan situasi yang paling menakutkan tanpa menjadi cemas.

Desensitisasi sistematik amat berhasil pada pasien ini sebelum kunjungan kesembilan, ia sudah membuat perjanjian dan menepati perjanjian kunjungan tersebut. Setelah ini, semua perawat gigi yang perlu dituntaskan, dan pasien ternyata merasa ”relaks”.2

Pembahasan

Prosedur treatment ini dilandasi oleh prinsip belajar counterconditioning, yaitu respon yang tidak diinginkan digantikan dengan tingkah laku yang diinginkan sebagai hasil latihan yang berulang-ulang. Teknis desentisisasi ini sangat efektif untuk menghilangkan rasa takut atau fobia.3

Selain faktor orangtua, faktor pergaulan anak dapat mempengaruhi tingkah laku anak di klinik gigi, yaitu bila teman-temannya menceritakan hal-hal yang menakutkan, sehingga menimbulkan rasa takut pada si anak. Oleh karena itu, sangat diperlukan upaya orangtua untuk meyakinkan anak bahwa semua itu tidak beralasan, dan bawalah anak kita sedini mungkin ke dokter gigi, sehingga ia merasa biasa dan akrab dengan suasana di tempat praktek dokter gigi.5 Dalam proses perkembangan anak yang masih belum meniliki kecemasan atau fobia yang permanen karena belum terlalu mengerti tentang ke dokter gigi.

Kesimpulan

  1. Penggunaan teknik desensitisasi efektif digunakan pada anak yang memiliki trauma psikologis pergi ke dokter gigi.
  2. Desensitisasi efektif digunakan bagi pasien anak yang tidak bisa mengkonsumsi obat anastesi.
  3. Pasien anak dapat mengurangi kecemasannya sedikit demi sedikit hingga tidak merasa cemas lagi.

Daftar Pustaka

  1. Dalimunthe, Taqwa. Dasar-dasar Pedodonsia. Medan:            ,2009.
  2. Kent, Blinkhorn. Pengelolaan tingkah laku pasien pada praktik dokter gigi. Alih Bahasa. Budiman, Johan. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC,2005:103-107.
  3. Purnama. Terapi Behavioral. (30 Januari 2008). http://indoskripsi.com/ .(10 November 2009).
  4. Marfiati, Sri. Tehnik konseling behaviour.(4 juli 2009). http://smasooko.blogspot.com/2009/07/tehnik-konseling-behaviour.html. (10 November  2009).
  5. Astuti, Murni. Mengapa anak takut ke dokter gigi?. (4 Januari 2008).  http://arsip.kotasantri.com/bilik.php?aksi=Detail&sid=852. (19 November 2009).

5 Comments »

  1. […] Tampubolon DP. Teknik Desensitisasi Sebagai Pendekatan Tingkah Laku Anak Pada Perawatan Gigi. <http://dedewwingky.wordpress.com/dokter-gigi-yang-takut-akan-tuhan/&gt;. (28 Oktober […]

  2. Rizka Said:

    Bagus nih isinya….

  3. drgtrianita Said:

    thanks ya artikelnya :)

  4. fadly Said:

    ada gak kuisioner faktor ketakutan anak…

    • dedewwingky Said:

      saya gak ada.
      untuk skrpsi ya?


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: